karena saat ini aku sudah duduk dibangku SMK.....
12/06/2018 20.52
Aku yakin setiap orang mempunyai kisah yang beda, kisah
mereka mungkin lebih menarik dari pada kisahku. Hanya saja, mungkin mereka
tidak sempat atau tertarik untuk menulis. Demikian juga aku, sejak lama aku
ingin menulis kisahku. Malam ini aku akan memulainya...
25/06/2018 18.58
Malam ini aku menulis kisah saat mulai masuk Sekolah
Dasar (SD), hingga lulus SD. Aku tertarik menulisnya karena masa SD bagiku
adalah masa yang sangat berkesan. Masa itu menggambarkan suatu arti perjuangan
dan perubahan.
Aku bersekolah di SD N 009 KUNTO DARUSSALAM dengan
mayoritas siswa agama islam dan suku Jawa, disinilah aku menempuh pendidikan
selama 6 tahun. Jarak dari rumahku ke sekolah kurang lebih 7 km.
Aku masuk kelas satu SD saat usia 7 tahun 6 bulan. Hari
pertama masuk sekolah adalah hari yang kunanti, namun saat tiba di sekolah aku
mendapat sambutan yang kurang baik. Teman– teman menolakku hanya karena suku
dan agama yang berbeda. Mereka selalu membuliku bahkan sangat sedikit dari
golongan mereka yang mau berteman denganku.
Di sekolah aku hanya memiliki satu orang teman dekat yang
bernama Nasib Gunawan. Rumah kami berdekatan. Kami berangkat sekolah dengan
bersepeda. Selalu bersama saat melakukan sesuatu mulai dari kebaikan hingga
kenakalan (tapi lebih banyak nakalnya... hehehe..). Seringkali kami melakukan
hal – hal yang menantang keberanian mulai dari mencuri, berbohong, hingga
berkelahi.
Perlakuan yang kurang baik di sekolah membuatku mengerti
akan kerasnya pertemanan dan kerasnya dunia luar. Di sekolah kami sering
berkelahi dengan orang – orang yang membuli kami, namun pihak guru sangat
jarang mengetahuinya.
Oleh karena itu, sejak kelas 1 SD aku sudah tertarik
untuk belajar berkelahi. Aku mulai mengikuti gerakan yang ada di film dan
melihat gambar di buku – buku. Aku mulai melatih tubuhku untuk melakukan
pukulan. Namun tidak sedikitpun tertarik untuk ikut organisasi bela diri.
Karena aku melihat disekitarku begitu banyak kelompok bela diri yang disalah
gunakan. Yang paling aku gak suka mayoritas dari mereka menggunakan ilmu hitam.
Saat pembagian Raport semester I, aku mendapat peringkat
11. Hingga semester II, aku naik kelas 2
dengan peringkat yang sama. Yang sangat menyayangkan adalah teman dekatku
tinggal kelas. Dan dia pindah sekolah.
Di kelas 2 SD, aku dipindah dari kelas B ke kelas A.
Karena ruang kelas di selolahku kurang kami masuk kelas jam 10.00, bergantian
dengan kelas 1. Pada masa ini aku sering berangkat dan pulang sekolah dengan
berjalan kaki dan terkadang menumpang dengan orang yang lewat.
Naik kelas 3 dengan peringkat 8, membuatku bertahan di
kelas A. Sejak kelas 3 kami berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda motor.
Pada masa ini mulai tumbuh keberanian dan kenakalan yang luar biasa. Namun aku
sangat terampil dalam melakukan aksiku, sehingga seberapa besarpun masalahku
diluar tidak ada yang sampai pada orang tuaku. Bahkan di sekolah seringkali aku
tidak membawa tas, buku, dan pena. Saat belajar aku meminta kertas selembar dan
meminjam pena pada orang yang ada di sekitarku. Tidak jarang aku meminjam pena
pada guru wali kelasku dan aku selalu membuat pena tersebut rusak (ya, syukur
aja gurunya sabar dan baik banget).
Yang membuat teman – teman bahkan guruku kagum padaku
adalah prestasiku selalu meningkat. Bahkan awalnya akupun heran dengan semua
ini, tapi itulah kenyataan yang terjadi.
Naik kelas 4 dengan pringkat 6, hal yang mengejutkan. Artinya
bertahan di kelas A, namun baru dua hari belajar di kelas A aku langsung
dipindah ke kelas B. Karena wali kelas 4A tidak suka dengan murid
sepertiku dan wali kelas 4b terkenal adalah guru yang keras.
Di kelas 4 aku sering tidak masuk sekolah. Aku melakukan
segala sesuatunya dengan sesuka hatiku. Bahkan aku pernah mengulangi kenakalan kelas 3 ku. Datang ke sekolah dengan
terlambat dan tidak membawa tas. Ketika ditanya aku hanya menjawab “lupa”
guruku marah dan berkata “untung gak lupa pakai celana..!”, semua teman
–temanku tertawa.
Naik kelas 5 dengan urutan ke-17, kehancuran yang luar
biasa dan otomatis masuk kelas B. Kehancuran nilai tersebut tidak membuatku
berubah, bahkan semakin parah. Di sekolah aku sering barkata kasar kepada teman
– teman, membuatku dihukum untuk membersihkan kelas selama 1 minggu.
Di semester II aku semakin sering tidak masuk sekolah.
Aku malah pergi ke sekolah lain untuk bermain dengan orang – orang baru dan
menemui temanku Nasib Gunawan. Karena terlalu banyak tidak masuk sekolah guruku
sampai berkata “Monang, sekali lagi kamu tidak masuk sekolah. Kamu pasti tidak
naik kelas...!”. Kata – kata itu cukup membuatku gentar dan aku mengurangi
kenakalanku.
Naik kelas 6 dengan pringkat 10, suatu keajaiban yang
sulit dipercaya. Aku gak ngerti kenapa ini semua bisa terjadi. Baru satu hari
belajar di kelas B, aku terpaksa dipindah ke kelas A. Bukan karena kepandaian
namun karena wali kelas 6b tidak suka dengan kenakalanku.
Beberapa hari setelah belajar, kepala sekolah berkata
kepada semua murid kelas 6 “barang siapa diantara kalian yang sanggup mendapat
nilai 90 mata pelajaran matematika di Ujian Nasional (UN) akan mendapat uang
sebesar Rp 100.000 dan nilai 100 akan ikut liburan gratis ke Bukit Tinggi,
SumBar”. Bagiku perkataan tersebut cukup menantang, karena sejak kelas satu aku
sangat menyukai pelajaran matematika. Ditambah lagi dengan perkataan wali
kelasku “ketika kalian menekuni matematika maka pelajaran lain akan menyusul”.
|
Untuk melakukan sesuatu anak nakal lebih menyukai
TANTANGAN dari pada BUJUKAN
|
Aku mulai serius belajar, dan ditambah lagi aku merasa
cocok dengan wali kelasku. Saat pembagian raport semester I aku mendapat
pringkat 5. Sesuatu yang sangat menyenangkan dan membangkitkan semangat.
Ditamah lagi dengan kedatangan seorang murid baru yang cantik di sekolahku. Dia
adalah orang yang sangat kucintai hingga saat ini.
Aku selalu serius dalam pelajaran matematika. Ketika satu
bulan sebelun Ujian Nasional guruku memprediksi ada 3 orang yang kemungkinan
mendapat nilai terbaik, dan aku salah satu diantara mereka.
Sesuatu yang cukup mengecoh adalah seminggu sebelum Ujian
Nasional temanku memperkenalkan aku dengan Play Station (PS). Hal tersebut
membuatku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain PS. Namun aku tetap
menyempatkan waktu untuk belajar matematika.
Kurang lebih dua minggu setelah Ujian Nasional kepala
sekolah mengucapkan selamat kepadaku. Karena hanya aku yang mampu memenuhi
tantangan tersebut dengan nilai matematika 9,25 dan sebagai juara 1 Ujian
Nasional. Namun untuk pringkat kelas aku mendapat pringkat 4. Pencapaian
tersebut membuatku sangat senang, karena itu membahagiakan orang tuaku. Itulah
arti perjuangan dan perubahan yang kudapatkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar