Minggu, 14 April 2019

PERJUANGAN dan PERUBAHAN


Sebenarnya ini sudah lama aku tulis, namun baru terfikir untuk mempublikasikannya....
karena saat ini aku sudah duduk dibangku SMK.....

12/06/2018 20.52
Aku yakin setiap orang mempunyai kisah yang beda, kisah mereka mungkin lebih menarik dari pada kisahku. Hanya saja, mungkin mereka tidak sempat atau tertarik untuk menulis. Demikian juga aku, sejak lama aku ingin menulis kisahku. Malam ini aku akan memulainya...
25/06/2018 18.58
Malam ini aku menulis kisah saat mulai masuk Sekolah Dasar (SD), hingga lulus SD. Aku tertarik menulisnya karena masa SD bagiku adalah masa yang sangat berkesan. Masa itu menggambarkan suatu arti perjuangan dan perubahan.
Aku bersekolah di SD N 009 KUNTO DARUSSALAM dengan mayoritas siswa agama islam dan suku Jawa, disinilah aku menempuh pendidikan selama 6 tahun. Jarak dari rumahku ke sekolah kurang lebih 7 km.
Aku masuk kelas satu SD saat usia 7 tahun 6 bulan. Hari pertama masuk sekolah adalah hari yang kunanti, namun saat tiba di sekolah aku mendapat sambutan yang kurang baik. Teman– teman menolakku hanya karena suku dan agama yang berbeda. Mereka selalu membuliku bahkan sangat sedikit dari golongan mereka yang mau berteman denganku.
Di sekolah aku hanya memiliki satu orang teman dekat yang bernama Nasib Gunawan. Rumah kami berdekatan. Kami berangkat sekolah dengan bersepeda. Selalu bersama saat melakukan sesuatu mulai dari kebaikan hingga kenakalan (tapi lebih banyak nakalnya... hehehe..). Seringkali kami melakukan hal – hal yang menantang keberanian mulai dari mencuri, berbohong, hingga berkelahi.
Perlakuan yang kurang baik di sekolah membuatku mengerti akan kerasnya pertemanan dan kerasnya dunia luar. Di sekolah kami sering berkelahi dengan orang – orang yang membuli kami, namun pihak guru sangat jarang mengetahuinya.
Oleh karena itu, sejak kelas 1 SD aku sudah tertarik untuk belajar berkelahi. Aku mulai mengikuti gerakan yang ada di film dan melihat gambar di buku – buku. Aku mulai melatih tubuhku untuk melakukan pukulan. Namun tidak sedikitpun tertarik untuk ikut organisasi bela diri. Karena aku melihat disekitarku begitu banyak kelompok bela diri yang disalah gunakan. Yang paling aku gak suka mayoritas dari mereka menggunakan ilmu hitam.
Saat pembagian Raport semester I, aku mendapat peringkat 11.  Hingga semester II, aku naik kelas 2 dengan peringkat yang sama. Yang sangat menyayangkan adalah teman dekatku tinggal kelas. Dan dia pindah sekolah.
Di kelas 2 SD, aku dipindah dari kelas B ke kelas A. Karena ruang kelas di selolahku kurang kami masuk kelas jam 10.00, bergantian dengan kelas 1. Pada masa ini aku sering berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki dan terkadang menumpang dengan orang yang lewat.
Naik kelas 3 dengan peringkat 8, membuatku bertahan di kelas A. Sejak kelas 3 kami berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Pada masa ini mulai tumbuh keberanian dan kenakalan yang luar biasa. Namun aku sangat terampil dalam melakukan aksiku, sehingga seberapa besarpun masalahku diluar tidak ada yang sampai pada orang tuaku. Bahkan di sekolah seringkali aku tidak membawa tas, buku, dan pena. Saat belajar aku meminta kertas selembar dan meminjam pena pada orang yang ada di sekitarku. Tidak jarang aku meminjam pena pada guru wali kelasku dan aku selalu membuat pena tersebut rusak (ya, syukur aja gurunya sabar dan baik banget).
Yang membuat teman – teman bahkan guruku kagum padaku adalah prestasiku selalu meningkat. Bahkan awalnya akupun heran dengan semua ini, tapi itulah kenyataan yang terjadi.
Naik kelas 4 dengan pringkat 6, hal yang mengejutkan. Artinya bertahan di kelas A, namun baru dua hari belajar di kelas A aku langsung dipindah ke kelas B. Karena wali kelas 4A tidak suka dengan murid sepertiku dan wali kelas 4b terkenal adalah guru yang keras.
Di kelas 4 aku sering tidak masuk sekolah. Aku melakukan segala sesuatunya dengan sesuka hatiku. Bahkan aku pernah mengulangi kenakalan  kelas 3 ku. Datang ke sekolah dengan terlambat dan tidak membawa tas. Ketika ditanya aku hanya menjawab “lupa” guruku marah dan berkata “untung gak lupa pakai celana..!”, semua teman –temanku tertawa.
Naik kelas 5 dengan urutan ke-17, kehancuran yang luar biasa dan otomatis masuk kelas B. Kehancuran nilai tersebut tidak membuatku berubah, bahkan semakin parah. Di sekolah aku sering barkata kasar kepada teman – teman, membuatku dihukum untuk membersihkan kelas selama 1 minggu.
Di semester II aku semakin sering tidak masuk sekolah. Aku malah pergi ke sekolah lain untuk bermain dengan orang – orang baru dan menemui temanku Nasib Gunawan. Karena terlalu banyak tidak masuk sekolah guruku sampai berkata “Monang, sekali lagi kamu tidak masuk sekolah. Kamu pasti tidak naik kelas...!”. Kata – kata itu cukup membuatku gentar dan aku mengurangi kenakalanku.
Naik kelas 6 dengan pringkat 10, suatu keajaiban yang sulit dipercaya. Aku gak ngerti kenapa ini semua bisa terjadi. Baru satu hari belajar di kelas B, aku terpaksa dipindah ke kelas A. Bukan karena kepandaian namun karena wali kelas 6b tidak suka dengan kenakalanku.
Beberapa hari setelah belajar, kepala sekolah berkata kepada semua murid kelas 6 “barang siapa diantara kalian yang sanggup mendapat nilai 90 mata pelajaran matematika di Ujian Nasional (UN) akan mendapat uang sebesar Rp 100.000 dan nilai 100 akan ikut liburan gratis ke Bukit Tinggi, SumBar”. Bagiku perkataan tersebut cukup menantang, karena sejak kelas satu aku sangat menyukai pelajaran matematika. Ditambah lagi dengan perkataan wali kelasku “ketika kalian menekuni matematika maka pelajaran lain akan menyusul”.

Untuk melakukan sesuatu anak nakal lebih menyukai
TANTANGAN dari pada BUJUKAN
 





Aku mulai serius belajar, dan ditambah lagi aku merasa cocok dengan wali kelasku. Saat pembagian raport semester I aku mendapat pringkat 5. Sesuatu yang sangat menyenangkan dan membangkitkan semangat. Ditamah lagi dengan kedatangan seorang murid baru yang cantik di sekolahku. Dia adalah orang yang sangat kucintai hingga saat ini.
Aku selalu serius dalam pelajaran matematika. Ketika satu bulan sebelun Ujian Nasional guruku memprediksi ada 3 orang yang kemungkinan mendapat nilai terbaik, dan aku salah satu diantara mereka.
Sesuatu yang cukup mengecoh adalah seminggu sebelum Ujian Nasional temanku memperkenalkan aku dengan Play Station (PS). Hal tersebut membuatku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain PS. Namun aku tetap menyempatkan waktu untuk belajar matematika.
Kurang lebih dua minggu setelah Ujian Nasional kepala sekolah mengucapkan selamat kepadaku. Karena hanya aku yang mampu memenuhi tantangan tersebut dengan nilai matematika 9,25 dan sebagai juara 1 Ujian Nasional. Namun untuk pringkat kelas aku mendapat pringkat 4. Pencapaian tersebut membuatku sangat senang, karena itu membahagiakan orang tuaku. Itulah arti perjuangan dan perubahan yang kudapatkan.